KARAWANG, JAWA BARAT — Ratusan warga Kampung Jungklang, Desa Pamekaran, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, berkumpul di tengah hamparan persawahan yang memisahkan Desa Pamekaran dan Dusun Pendeuy, Desa Cicinde Utara, pada Senin (28/9/2026) siang pukul 13.30 WIB. Mereka melaksanakan tradisi Baritan Doa Bersama — sedekah bumi yang digelar untuk memohon keberkahan, kelancaran hasil panen, serta turunnya hujan yang tepat waktu kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan ini diprakarsai oleh Mang Tarkim, sosok penggerak warga yang berinisiatif menyatukan masyarakat untuk berpatungan menyelenggarakan acara tradisi tersebut. Antusiasme warga terlihat sangat tinggi, tak hanya dari para petani, melainkan dari berbagai lapisan masyarakat yang hadir secara sukarela.
JALANNYA ACARA: TAWASSUL, DZIKIR DAN SHOLAWAT
Acara dimulai dengan pembacaan Tawassul kepada para sesepuh, leluhur, serta para penghuni gaib suci wilayah setempat, sebagai wujud penghormatan dan permohonan perlindungan. Suasana semakin syahdu saat dilanjutkan dengan pembacaan Dzikir dan Sholawat Nabi secara bersama-sama, yang dipimpin langsung oleh Ustadz H. Apipudin.
Lokasi kegiatan dipilih tepat di jalan persawahan yang menjadi batas antara Desa Pamekaran dan Dusun Pendeuy, Desa Cicinde Utara — sebuah tempat yang dinilai sakral sekaligus menjadi sumber penghidupan warga dari hasil pertanian.
TURUT HADIR TOKOH MASYARAKAT DAN TOKOH AGAMA
Hadir dalam acara ini sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, serta perwakilan warga, antara lain:
1. Bapak Wakil Sopari Dusun Jungklang
2. Bapak Roman — Ketua RT 03/04
3. Bapak H. Jaya
4. Bapak Karim (Om Alex)
5. Bapak Imin
6. Bapak Alan — Ketua RT Dusun Pendeuy, Desa Cicinde Utara
7. Ki Mujib — Tokoh Supranatural
8. Bapak Darsum
9. Bapak Duha
Serta puluhan hingga ratusan warga, para petani, dan pemuda dari kedua desa yang hadir untuk berdoa bersama.
HARAPAN DAN PESAN DARI TOKOH MASYARAKAT :
Wakil Sopari, yang hadir mewakili tokoh masyarakat, menyampaikan:
“Baritan ini bukan sekadar tradisi, melainkan wujud rasa syukur kita sekaligus permohonan agar tanah kita tetap subur, air tetap mengalir, dan panen kita melimpah. Semoga persatuan warga seperti ini terus terjaga — tanpa perpecahan, saling bantu, dan saling mendoakan. Keberkahan itu datang dari persaudaraan kita.”
Sementara itu, Bapak Karim atau yang akrab disapa Om Alex, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kesatuan warga:
“Sawah ini memberi makan kita semua. Maka kita wajib merawatnya, menjaga kebersihannya, dan menjaga kerukunannya. Ketika warga bersatu, Tuhan pun menyertai. Semoga hujan turun dengan baik, tidak berlebihan, tidak kekurangan, sehingga tanaman padi kita tumbuh sehat dan panen nanti membawa kebahagiaan bagi seluruh keluarga.”
MAKNA BARITAN BAGI WARGA :
Mang Tarkim selaku penggagas kegiatan menyebutkan bahwa baritan ini rutin dilaksanakan sebagai wujud kearifan lokal yang diwariskan para leluhur. Di tengah perubahan zaman, warga bertekad tetap melestarikan tradisi tersebut sebagai pengingat bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada tenaga dan modal, melainkan juga kepada keridhaan Tuhan dan persatuan sesama warga.
Acara ditutup dengan doa bersama dan pembagian sedekah kepada seluruh warga yang hadir, diakhiri dengan harapan agar Desa Pamekaran dan sekitarnya senantiasa diberkahi kemakmuran, keselamatan, dan persatuan yang abadi.
Jurnalis : Rochman.E.S
